Kamis, 31 Mei 2012

Watak & Karakter "Ureung Aceh" (Orang Aceh)

Kita akan berusaha melukiskan kekhasan dan keunikan Aceh. Bahwa sesungguhnya kekhasan orang Aceh jika diperbandingkan dengan kultur masyarakat lain di Indonesia adalah sikap militansi dan loyal atau patuh kepada pemimpin.

Bukan tanpa alasan jika penulis menyebutkan dua hal di atas sebagai dua karakter yang paling menonjol dari orang Aceh.
Gambaran Ureung Aceh Masa Perang Belanda

(Pertama), Sikap militansi masyarakat atau orang Aceh sudah ditempa sejak ratusan tahun lalu, sejak pendudukan Belanda sampai konflik bersenjata antara GAM-RI. Semangat rela berkorban, berjuang dan berperang sampai titik darah penghabisan yang ditempa sekian lama itu lantas mengental, mengkristal jadi sebuah budaya yang melekat erat dalam setiap karakter masyarakat Aceh. Hal ini bisa dibaca melalui syair-syair do daidi, senandung peninabobo bayi yang mengajarkan dan mengajak sang bayi agar setelah besar nanti pergilah ke medan perang untuk berjuang membela bangsa (nanggroe).

(Kedua), selain sikap militansi, sikap yang lain yang menonjol adalah loyal dan patuh pada pemimpin. Loyalitas dan kepatuhan bagi orang Aceh sebenarnya sebuah nilai dengan harga mahal. Sebab, agar orang Aceh menjadi loyal dan patuh, sang pemimpin haruslah jujur, setia kepada rakyatnya, tidak ingkar janji, bijak dalam pelayanan serta percaya kepada rakyat.

Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan orang Aceh rela memberikan segala harta bendanya kepada Indonesia lewat sebuah pesawat bernama RI 01 yang kita tahu sekarang dimuseumkan di Taman Mini Indonesia Indah. Inilah bukti kepatuhan dan loyalitas orang Aceh terhadap Soekarno karena beliau menjanjikan penetapan syariat Islam di Aceh. Janji itu disampaikan Soekarno kepada Tengku Daud Beureuh pada 16 Juni 1948. Aceh memberikan kemenangan telak kepada partai Demokrat dan secara khusus kepada SBY dalam pilpres 2009. Tercatat 93% masyarakat Aceh memilih SBY. Ini juga bukti kepatuhan dan loyalitas orang Aceh terhadap SBY, karena dalam masa pemerintahannya SBY telah memberikan sesuatu yang berharga untuk Aceh yakni perdamaian.

Belajar dari fakta sejarah masa lulu, SBY yang sekarang dipercayakan oleh mayoritas masyarakat Aceh hendaknya membangun silaturahmi yang baik dengan masyarakat Aceh. Sebab bisa saja terjadi, jika kepercayaan itu tidak dihargai, maka Aceh akan bergejolak lagi. Prediksi ini memang jauh panggang dari api, tetapi sikap awas SBY atas semua janjinya mesti perlu dibuktikan.

Itulah gambaran singkat masyarakat Aceh, Menurut Dr. Mohd Harun lewat ‘Memahami orang Aceh’ (April 2009) Kajiannya atas masyarakat Aceh dari penggalan syair hadih maja. Menurutnya ada lima (5) prototipe watak orang Aceh.

Pertama adalah reaktif artinya sebagai sebuah sikap awas atas harga diri yang keberadaanya dipertaruhkan dalam konstelasi sosial budaya. Orang Aceh sangat peka terhadap situasi sosial di sekitarnya. Orang Aceh tidak suka diusik apalagi diejek, sebab, karena kalau tersinggung dan menanggung malu reaksi yang timbul adalah akan dibenci dan bahkan menimbulkan dendam. 

Meunyoe ka teupeh, Bu leubeh han geu peu taba....Meunyoe hana teupeh, [maaf] Aneuk kr*h jeut ta raba. (silahkan Artikan Sendiri)

Kedua adalah militan artinya memiliki semangat juang yang tinggi, bukan hanya dalam memperjuangkan makna hidup tetapi juga dalam mempertahankan harga diri atau eksistensinya.

‘Rencong peudeueng pusaka ayah, rudoh siwah kreh peunulang.Nibak udep dalam susah, bah manoe darah teungoh padang’(Rencong, pedang pusaka ayah, rudoh, siwah keris warisan.Daripada hidup di dalam susah, biar bermandikan padang di tengah padang)

Ketiga adalah optimis hal ini tampak dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. Orang Aceh beranggapan bahwa setiap pekerjaan yang kelihatan sulit dan berat harus dicoba dan dilalui. 

‘Siploh pinto teutob, na saboh nyang teuhah’
(sepuluh pintu tertutup, ada satu yang terbuka).

Keempat adalah konsisten. Hal ini tampak dalam sikap dan pendirian yang tidak plin plan, tegas, taat asas apalagi jika berkaitan dengan harga diri dan kebenaran. ‘

Cab di batee labang di papeuen, lagee ka lon kheun han jeut metuka’(cap di batu paku di papan, seperti sudah kukatakan tak boleh bertukar)

Kelima adalah loyal. Hal ini amat berkaitan dengan kepercayaan. Jika seseorang , lebih-lebih pemimpin, menghargai, mempercayai, tidak menipu, tidak mencurigai orang Aceh maka mereka akan mebaktikan diri sepenuhnya kepada sang pemimpin. ‘

Adak lam prang pih lon srang-brang. Bah mate di blang ngon sabab gata’
(walau dalam perang pun saya berkorban, biarlah mati dalam perang demi anda).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar